Rabu, 17 November 2010

Askep CMV dan Pneumonia

CYTOMEGALOVIRUS (CMV)


1. Definisi

Cytomegalovirus (CMV) merupakan virus yang diklasifikasikan dalam keluarga virus herpes, memiliki potensi yang berbahaya bagi janin, pasien operasi cangkok organ, mengganggu atau merusak organ paru-paru, jantung, mata, usus, ginjal, lambung, dan lain-lain.

2. Organ yang Bisa Terkena Infeksi CMV

CMV dapat mengenai hampir semua organ dan menyebabkan hampir semua jenis infeksi. Organ yang bisa terkena CMV adalah:

  • Ginjal, sehingga disebut CMV nefritis;
  • Hati, sehingga disebut CMV hepatitis;
  • Jantung, sehingga disebut CMV myocarditis;
  • Paru-paru, sehingga disebut CMV pneumonitis;
  • Mata, sehingga disebut CMV retinitis;
  • Lambung, sehingga disebut CMV gastritis;
  • Usus, sehingga disebut CMV colitis.
  • Otak, sehingga disebut CMV encephalitis.

3. Penyebab

Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.

4. Patofisiologi

CMV adalah virus litik yang menyebabkan efek cytopathic in vitro dan in vivo. Ciri patologis infeksi CMV adalah sel diperbesar dengan badan inklusi virus. Sel menunjukkan bahwa cytomegaly juga terlihat pada infeksi yang disebabkan oleh Betaherpesvirinae lainnya.

Ketika host terinfeksi, DNA CMV dapat dideteksi dengan polymerase chain reaction (PCR) dalam semua garis keturunan sel yang berbeda dan system organ tubuh. Setelah infeksi awal, menginfeksi sel-sel epitel dari kelenjar ludah, mengakibatkan infeksi persisten dan pelepasan virus. Infeksi yang mengarah pada sistem genitourinari secara klinis tidak berhubungan dengan virus. Meskipun replikasi virus berlangsung di ginjal, disfungsi ginjal jarang terjadi kecuali pada penerima transplantasi ginjal, di antaranya CMV berhubungan dengan kasus yang langka dari glomerulopati dan kemungkinan penolakan graft.

5. Gejala atau Akibat dari CMV

Akibat dari terinfeksi CMV dapat ringan namun juga dapat amat berbahaya. Gejala dapat bervariasi mulai dari amat berat hingga gejala minimal, bahkan ada juga yang tanpa gejala.

Karena dapat menyerang hampir semua organ, gejalanya sangat bervariasi tergantung dari organ yang diserang. Biasanya CMV menyebabkan demam, penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan letih- lesu. Gejalanya dapat ringan hingga berat. Kreatinin dapat meningkat pada pasien cangkok ginjal dengan infeksi CMV. Infeksi pada paru-paru menimbulkan sesak dan batuk. Pada sistem cerna seperti misalnya lambung dan usus, infeksi CMV menyebabkan mual, muntah dan diare. Ensefalitis (otak) CMV dapat menyebakan kejang, nyeri kepal, dan koma. Apabila penderita sedang hamil, CMV bisa menginfeksi janin dan mengakibatkan gangguan pada organ tertentu janin

Menyerang Organ Janin

Virus CMV pada wanita hamil dapat berakibat pada janin yang dikandungnya dengan manifestasi berbeda-beda, misalnya kulit berwarna kuning, pembesaran hati dan limpa,
kerusakan atau hambatan pembentukan organ tubuh seperti mata, otak, gangguan
mental, dan lain-lain tergantung organ janin mana yang diserang. Umumnya janin yang terinfeksi CMV lahir prematur dan berat badan lahir rendah.

Masalah Bagi Pasien Cangkok Organ

Virus CMV biasa menghinggapi pasien cangkok organ pasca transplantasi karena biasanya para pasien ini diberikan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh. Pemberian obat ini dimaksudkan supaya sistem kekebalan tubuh pasien operasi cangkok organ tidak menyerang organ baru yang dicangkokkan. Efek samping dari penekanan sistem kekebalan tubuh ini adalah ketidakmampuan tubuh untuk melawan infeksi, termasuk serangan CMV.

6. Penularan CMV

Virus CMV ada dalam cairan tubuh pasien CMV dan ditularkan melalui kontak selaput lendir (mulut dan kelamin). Selain itu, penularan CMV bisa melalui transfusi darah, dan pada bayi umumnya tertular pada saat masih dalam kandungan atau dari ASI.

Infeksi CMV Bisa Berulang

CMV tergolong virus yang bandel atau hampir tidak bisa dihilangkan dari tubuh inang. Sekali terinfeksi, virus akan membenamkan diri dalam tubuh dan dapat menyebabkan infeksi berulang pada masa mendatang.

7. Penatalaksanaan

Diagnosa CMV

Kebanyakan infeksi yang ada tidak terdiagnosa karena CMV seringkali menampakkan sedikit gejala, bahkan bisa juga tanpa gejala. Diagnosis pasti CMV ditetapkan berdasarkan pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang mendeteksi keberadaan DNA (materi genetik) virus CMV dalam darah. Disamping itu, infeksi CMV juga ditetapkan dengan pemeriksaan kadar antibodi IgG dan IgM.

Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

Pengobatan CMV dan Pencegahan

Obat-obat infeksi virus yaitu acyclovir, gancyclovir, dapat diberikan untuk infeksi CMV. Pemberian imunisasi dengan plasma hiperimun dan globulin dikemukakan telah memberi beberapa keberhasilan untuk mencegah infeksi primer dan dapat diberikan kepada penderita yang akan menjalani 31 cangkok organ. Namun demikian, program imunisasi terhadap infeksi CMV, belum lazim dijalankan di negeri kita. Pada pemberian transfusi darah, resipien dengan CMV negatif idealnya harus mendapat darah dari donor dengan CMV negatif pula.2 Deteksi laboratorik untuk infeksi CMV, idealnya dilakukan pada setiap donor maupun resipien yang akan mendapat transfusi darah atau cangkok organ. Apabila terdapat peningkatan kadar IgG anti- CMV pada pemeriksaan serial yang dilakukan 2x dengan selang waktu 2-3 minggu, maka darah donor seharusnya tidak diberikan kepada resipien mengingat dalam kondisi tersebut infeksi atau reinfeksi masih berlangsung.

Seorang calon ibu, hendaknya menunda untuk hamil apabila secara laboratorik dinyatakan terinfeksi CMV primer akut. Bayi baru lahir dari ibu yang menderita infeksi CMV, perlu dideteksi IgM anti-CMV untuk mengetahui infeksi kongenital. Higiene dan sanitasi lingkungan perlu diperhatikan untuk mencegah penularan atau penyebaran. Infeksi CMV tidak menimbulkan keluhan apabila individu berada dalam kondisi kompetensi imun yang baik, oleh karena itu pola hidup sehat dengan makan minum yang sehat dan bergizi, sangat diperlukan agar sistem imun dapat bekerja dengan baik untuk meniadakan atau membasmi CMV. Istirahat yang cukup juga sangat diperlukan, karena istirahat termasuk ”pengobatan terbaik” untuk infeksi virus pada umumnya.

8. Komplikasi

Sekitar 10% dari kasus infeksi CMV yang mengenai bayi, yang berakibat pada suatu kecacatan (gangguan penglihatan dan pendengaran)

PNEUMONIA PADA ANAK

1. Definisi

Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Pada penyakit infeksi saluran pernafasan akut, sekitar 15-20% ditemukan pneumonia ini. Pneumonia didefinisikan sebagai penyakit infeksi dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas (WHO, 1989). Definisi lainnya adalah pneumonia merupakan suatu sindrom (kelainan) yang disebabkan agen infeksius seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing, berupa radang paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi.

2. Patofisiologi

Jalan nafas secara normal steril dari benda asingdari area sublaringeal sampai unit paru paling ujung. Paru dilindungi dari infeksi bakteri dengan beberapa mekanisme:

a. filtrasi partikel dar hidung.

b. pencegahan aspirasi oleh reflek epiglottal.

c. Penyingkiran material yang teraspirasi dengan reflek bersin.

d. Penyergapan dan penyingkiran organisme oleh sekresi mukus dan sel siliaris.

e. Pencernaan dan pembunuhan bakteri oleh makrofag.

f. Netralisasi bakteri oleh substansi imunitas lokal.

g. Pengangkutan partikel dari paru oleh drainage limpatik.

Infeksi pulmonal bisa terjadi karena terganggunya salah satu mekanisme pertahanan dan organisme dapat mencapai traktus respiratorius terbawah melalui aspirasi maupun rute hematologi. Ketika patogen mencapai akhir bronkiolus maka terjadi penumpahan dari cairan edema ke alveoli, diikuti leukosit dalam jumlah besar. Kemudian makrofag bergerak mematikan sel dan bakterial debris. Sisten limpatik mampu mencapai bakteri sampai darah atau pleura viseral.

Jaringan paru menjadi terkonsolidasi. Kapasitas vital dan pemenuhan paru menurun dan aliran darah menjadi terkonsolidasi, area yang tidak terventilasi menjadi fisiologis right-to-left shunt dengan ventilasi perfusi yang tidak pas dan menghasilkan hipoksia. Kerja jantung menjadi meningkat karena penurunan saturasi oksigen dan hiperkapnia.

3. Klasifikasi

Secara klinis, pneumonia dapat terjadi baik sebagai penyakit primer maupun sebagai komplikasi dari beberapa penyakit lain. Secara morfologis pneumonia dikenal sebagai berikut:

  1. Pneumonia lobaris, melibatkan seluruh atau satu bagian besar dari satu atau lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena, maka dikenal sebagai pneumonia bilateral atau “ganda”.
  2. Bronkopneumonia, terjadi pada ujung akhir bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus yang berada didekatnya, disebut juga pneumonia loburalis.
  3. Pneumonia interstisial, proses inflamasi yang terjadi di dalalm dinding alveolar (interstisium) dan jaringan peribronkial serta interlobular.

Pneumonia lebih sering diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, virus, atipikal (mukoplasma), bakteri, atau aspirasi substansi asing. Pneumonia jarang terjadi yang mingkin terjadi karena histomikosis, kokidiomikosis, dan jamur lain.

  1. Pneumonia virus, lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia bakterial. Terlihat pada anak dari semua kelompok umur, sering dikaitkan dengan ISPA virus, dan jumlah RSV untuk persentase terbesar. Dapat akut atau berat. Gejalanya bervariasi, dari ringan seperti demam ringan, batuk sedikit, dan malaise. Berat dapat berupa demam tinggi, batuk parah, prostasi. Batuk biasanya bersifat tidak produktif pada awal penyakit. Sedikit mengi atau krekels terdengar auskultasi.
  2. Pneumonia atipikal, agen etiologinya adalah mikoplasma, terjadi terutama di musim gugur dan musim dingin, lebih menonjol di tempat dengan konsidi hidup yang padat penduduk. Mungkin tiba-tiba atau berat. Gejala sistemik umum seperti demam, mengigil (pada anak yang lebih besar), sakit kepala, malaise, anoreksia, mialgia. Yang diikuti dengan rinitis, sakit tenggorokan, batuk kering, keras. Pada awalnya batuk bersifat tidak produktif, kemudian bersputum seromukoid, sampai mukopurulen atau bercak darah. Krekels krepitasi halus di berbagai area paru.
  3. Pneumonia bakterial, meliputi pneumokokus, stafilokokus, dan pneumonia streptokokus, manifestasi klinis berbeda dari tipe pneumonia lain, mikro-organisme individual menghasilkan gambaran klinis yang berbeda. Awitannya tiba-tiba, biasanya didahului dengan infeksi virus, toksik, tampilan menderita sakit yang akut , demam, malaise, pernafasan cepat dan dangkal, batuk, nyeri dada sering diperberat dengan nafas dalam, nyeri dapat menyebar ke abdomen, menggigil, meningismus.

Berdasarkan usaha terhadap pemberantasan pneumonia melalui usia, pneumonia dapat diklasifikasikan:

  1. Usia 2 bulan – 5 tahun

1) Pneumonia berat, ditandai secara klinis oleh sesak nafas yang dilihat dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah.

2) Pneumonia, ditandai secar aklinis oleh adanya nafas cepat yaitu pada usia 2 bulan – 1 tahun frekuensi nafas 50 x/menit atau lebih, dan pada usia 1-5 tahun 40 x/menit atau lebih.

3) Bukan pneumonia, ditandai secara klinis oleh batuk pilek biasa dapat disertai dengan demam, tetapi tanpa terikan dinding dada bagian bawah dan tanpa adanya nafas cepat.

  1. Usia 0 – 2 bulan

1) Pneumonia berat, bila ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu frekuensi nafas 60 x/menit atau lebih.

2) Bukan pneumonia, bila tidak ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat.

4. Tanda Dan Gejala

a. Demam, sering tampak sebagai tanda infeksi yang pertama. Paling sering terjadi pada usia 6 bulan – 3 tahun dengan suhu mencapai 39,5 – 40,5 bahkan dengan infeksi ringan. Mungkin malas dan peka rangsang atau terkadang eoforia dan lebih aktif dari normal, beberapa anak bicara dengan kecepatan yang tidak biasa.

b. Meningismus, yaitu tanda-tanda meningeal tanpa infeksi meninges. Terjadi dengan awitan demam yang tiba-tiba dengan disertai sakit kepala, nyeri dan kekakuan pada punggung dan leher, adanya tanda kernig dan brudzinski, dan akan berkurang saat suhu turun.

c. Anoreksia, merupakan hal yang umum yang disertai dengan penyakit masa kanak-kanak. Seringkali merupakan bukti awal dari penyakit. Menetap sampai derajat yang lebih besar atau lebih sedikit melalui tahap demam dari penyakit, seringkali memanjang sampai ke tahap pemulihan.

d. Muntah, anak kecil mudah muntah bersamaan dengan penyakit yang merupakan petunjuk untuk awitan infeksi. Biasanya berlangssung singkat, tetapi dapat menetap selama sakit.

e. Diare, biasanya ringan, diare sementara tetapi dapat menjadi berat. Sering menyertai infeksi pernafasan. Khususnya karena virus.

f. Nyeri abdomen, merupakan keluhan umum. Kadang tidak bisa dibedakan dari nyeri apendiksitis.

g. Sumbatan nasal, pasase nasal kecil dari bayi mudah tersumbat oleh pembengkakan mukosa dan eksudasi, dapat mempengaruhi pernafasan dan menyusu pada bayi.

h. Keluaran nasal, sering menyertai infeksi pernafasan. Mungkin encer dan sedikit (rinorea) atau kental dan purulen, bergantung pad tipe dan atau tahap infeksi.

i. Batuk, merupakan gambarab umum dari penyakit pernafasan. Dapat menjadi bukti hanya selama faase akut.

j. Bunyi pernafasan, seperti batuk, mengi, mengorok. Auskultasi terdengar mengi, krekels.

k. Sakit tenggorokan, merupakan keluhan yang sering terjadi pada anak yang lebih besar. Ditandai dengan anak akan menolak untuk minum dan makan per oral.

5. Faktor Risiko Pneumonia Pada Anak

a. Status gizi buruk, menempati urutan pertamam pada risiko pneumonia pada anak balita, dengan tiga kriteria antopometri yaitu BB/U, TB/U, BB/TB. Status gizi yang buruk dapat menurunkan pertahanan tubuh baik sistemik maupun lokal juga dapat mengurangi efektifitas barier dari epitel serta respon imun dan reflek batuk.

  1. Status ASI buruk, anak yang tidak mendapat ASI yang cukup sejak lahir ( kurang 4 bulan) mempunyai risiko lebih besar terkena pneumonia. ASI merupakan makanan paling penting bagi bayi karena ASI mengandung protein, kalori, dan vitamin untuk pertumbuhan bayi. ASI mengandung kekebalan penyakit infeksi terutama pneumonia.
  2. Status vitamin A, pemberian vitamin A pada anak berpengaruh pada sistem imun dengan cara meningkatkan imunitas nonspesifik, pertahanan integritas fisik, biologik, dan jaringan epitel. Vitamin A diperlukan dalam peningkatan daya tahan tubuh, disamping untuk kesehatan mata, produksi sekresi mukosa, dan mempertahankan sel-sel epitel.
  3. Riwayat imunisasi buruk atau tidak lengkap, khususnya imunisasi campak dan DPT. Pemberian imunisasi campak menurunkan kasusu pneumonia, karena sebagian besar penyakit campak menyebabkan komplikasi dengan pneumonia. Demikian pula imunisasi DPT dapat menurunkan kasus pneumonia karena Difteri dan Pertusis dapat menimbulkan komplikasi pneumonia.
  4. Riwayat wheezing berulang, anak dengan wheezing berulang akan sulit mengeluarkan nafas. Wheezing terjadi karena penyempitan saluran nafas (bronkus), dan penyempitan ini disebabkan karena adanya infeksi. Secara biologis dan kejadian infeksi berulang ini menyebabkan terjadinya destruksi paru, keadaan ini memudahkan pneumonia pada anak.
  5. Riwayat BBLR, anak dengan riwayat BBLR mudah terserang penyakit infeksi karena daya tahan tubuh rendah, sehingga anak rentan terhadap penyakit infeksi termasuk pneumonia.
  6. Kepadatan penghuni rumah, rumah dengan penghuni yang padat meningkatkan risiko pneumonia dibanding dengan penghuni sedikit. Rumah dengan penghuni banyak memudahkan terjadinya penularan penyakit dsaluran pernafasan.
  7. Status sosial ekonomi, ada hubungan bermakna antara tingkat penghasilan keluarg dengan pendidikan orang tua terhadap kejadian pneumonia anak.

6. Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan laboratorium

1) Leukosit, umumnya pneumonia bakteri didapatkan leukositosis dengan predominan polimorfonuklear. Leukopenia menunjukkan prognosis yang buruk.

2) Cairan pleura, eksudat dengan sel polimorfonuklear 300-100.000/mm. Protein di atas 2,5 g/dl dan glukosa relatif lebih rendah dari glukosa darah.

3) Titer antistreptolisin serum, pada infeksi streptokokus meningkat dan dapat menyokong diagnosa.

4) Kadang ditemukan anemia ringan atau berat.

  1. Pemeriksaan mikrobiologik

1) spesimen: usap tenggorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus atau sputum darah, aspirasi trachea fungsi pleura, aspirasi paru.

2) Diagnosa definitif jika kuman ditemukan dari darah, cairan pleura atau aspirasi paru.

  1. Pemeriksaan imunologis

1) Sebagai upaya untuk mendiagnosis dengan cepat

2) Mendeteksi baik antigen maupun antigen spesifik terhadap kuman penyebab.

3) Spesimen: darah atau urin.

4) Tekniknya antara lain: Conunter Immunoe Lectrophorosis, ELISA, latex agglutination, atau latex coagulation.

  1. Pemeriksaan radiologis, gambaran radiologis berbeda-beda untuk tiap mikroorganisme penyebab pneumonia.

1) Pneumonia pneumokokus: gambaran radiologiknya bervariasi dari infiltrasi ringan sampai bercak-bercak konsolidasi merata (bronkopneumonia) kedua lapangan paru atau konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). Bayi dan anak-anak gambaran konsolidasi lobus jarang ditemukan.

2) Pneumonia streptokokus, gambagan radiologik menunjukkan bronkopneumonia difus atau infiltrate interstisialis. Sering disertai efudi pleura yang berat, kadang terdapat adenopati hilus.

3) Pneumonia stapilokokus, gambaran radiologiknya tidak khas pada permulaan penyakit. Infiltrat mula-mula berupa bercak-bercak, kemudian memadat dan mengenai keseluruhan lobus atau hemithoraks. Perpadatan hemithoraks umumhya penekanan (65%), <>

7. Terapi

a. Perhatikan hidrasi.

  1. Berikan cairan i.v sekaligus antibiotika bila oral tidak memungkinkan.
  2. Perhatikan volume cairan agar tidak ada kelebihan cairan karena seleksi ADH juga akan berlebihan.
  3. Setelah hidrasi cukup, turunkan ccairan i.v 50-60% sesuai kebutuhan.
  4. Disstres respirasi diatasi dengan oksidasi, konsentrasi tergantung dengan keadaan klinis pengukuran pulse oksimetri.

  1. Pengobatan antibiotik:

1) Penisillin dan derivatnya. Biasanya penisilin S IV 50.000 unit/kg/hari atau penisilil prokain i.m 600.000 V/kali/hari atau amphisilin 1000 mg/kgBB/hari . Lama terapi 7 – 10 hari untuk kasus yang tidak terjadi komplikasi.

2) Amoksisillin atau amoksisillin plus ampisillin. Untuk yang resisten terhadap ampisillin.

3) Kombinasi flukosasillin dan gentamisin atau sefalospirin generasi ketiga, misal sefatoksim.

4) Kloramfenikol atau sefalosporin. H. Influensa, Klebsiella, P. Aeruginosa umumnya resisten terhadap ampisillin dan derivatnya. Dapat diberi kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari aatu sefalosporin.

5) Golongan makrolit seperti eritromisin atau roksittromisin. Untuk pneumonia karena M. Pneumoniae. Roksitromisin mempenetrasi jaringan lebih baik dengan rasio konsentrasi antibiotik di jaringan dibanding plasma lebih tinggi. Dosis 2 kali sehari meningkatkan compliance dan efficacy.

6) Klaritromisin. Punya aktivitas 10 kali erirtomisin terhadap C. pneumonie in vitro dan mempenetrasi jaringan lebih baik.

A. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

o Data demografi

o Pengkajian fisik

o Pemeriksaan penunjang: laboratorium (darah, biakan kuman, urin), radiologi (thoraks, CT Scan), imunologis

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

  1. Pola nafas tidak efektif b.d proses inflamasi
  2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri.
  3. Intoleransi aktivitas b.d proses inflamasi, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
  4. Risiko tinggi infeksi b.d adanya organisme infektif.
  5. Nyeri b.d proses inflamasi
  6. Cemas b.d kesulitan bernafas, prosedur dan lingkungan yang tidak dikenal (rumah sakit).
  7. Perubahan proses keluarga b.d penyakit dan atau hospitalisasi anak.

3. Rencana Keperawatan

No

Diagnosa kep

NOC

NIC

1.

Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri.

Jalan nafas bersih

Kriteria hasil :

o FR dalam batas normal

o FN dalam batas normal

o Tidak terdapat retraksi

o Suara nafas vesikuler

Airway Manajemen:

o Monitor pernafasan dan kekuatan pernafasan setiap 2 jam

o Auskultasu suara nafas dan warna kulit

o Observasi tanda-tanda obstruksi jalan nafas dan kegagalan pernafasan

o Berikan oksigensesuai program

o Lakukan nebulisasi sesuai program

o Lakkukan fisioterapi dada

o Lakukan suction sesuai kebutuhan

o Monitor analsisa gas darah

o Posisikan semi fowler dan pastikan kepala agak ekstensi

o Berikan antibiotik sesui program

o Berikan lingkungan yang tenang untuk meningkatkan istirahat

2.

Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan metabolisme, takipneu, demam

Kebutuhan cairan terpenuhi

Kriteria hasil:

o BB sesuai umur, tidak mengalami penurunan

o BAK lancar

o Membran mukosa lembab

o Fontanel tidak cekung

o Sekresi encer

Manajemen cairan:

o Hitung jumlah kebutuhan cairan harian dengan memperhitungkan frekuensi pernafasan dan suhu tubuh

o Pertahankan kelancaran infus sesuai dengan program

o Pastikan asupan cairan per oral / susu terpenuhi sesuai dengan kebutuhan

o Monitor intake-output

o Monitor berat badan setiap hari, monitor kelembaban mukosa, turgor kulit dan fontanel

o Monitor nilai laboratorium yang sesuai: Hematokrit, BJ urin dan elektrolit serum

o Pastikan ibu untuk mendapatkan intake makanan dan minuman serta istirahat yang cukup untuk memastikan ketersediaan ASI

3.

Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, proses penyakit, dehidrasi

Termoregulasi

Kriteria :

o Temperatur kulit

o Temperatur tubuh

o Tidak sakit kepala

o Tidak sakit otot

o Tidak ada perubahan warna kulit

o Nadi dbn

o Pernapasan dbn

o Melaporkan kenyamanan

o Hidrasi adekuat

Fever Treatment

o Monitor suhu tubuh setiap 4 jam

o Monitor BP, HR, RR

o Monitor warna kulit dan suhu

o Tingkatkan intake nutrisi dan cairan

o Diskusikan perlunya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negative seperti demam

o Berikan pengobatan untuk mencegah dan mengurangi demam sesuai dengan program

o lakukan kompres sesuai keadaan suhu

Manajemen cairan

o Pertahankan intake-output tercatat secara akurat

o Monitor status hidrasi

o Monitor nilai laboratorium yang sesuai

o Monitor tanda vital

o Berikan cairan secara tepat

o Tingkatkan intake oral

DAFTAR PUSTAKA

Akhter, K., 2010. Cytomegalovirus. E medicine from Web MD. http://emedicine.medscape.com/article/215702-overview

Gunawan, A., ……. Memahami Cytomegalovirus. Mom (me) world. Diakses tanggal 05 November 2010. http://www.mommeworld.com/post/view/8/memahami-cytomegalovirus/

Hermawan, A., 2009. Cytomegalovirus, Virus Bandel yang Harus Diwaspadai. Klinik online. http://healindonesia.wordpress.com/2009/10/05/cytomegalovirus-virus-bandel-yang-harus-diwaspadai/

Kliegman,R.M., Behrman,R.E., Jenson,H.B., Stanton,B.F. (2007). Nelson Textbook of Pediatrics 18th edition. Philadelphia: Saunders Elsevier.

Mc Closkey , J.C., Bulechek,G.M., 2004. Nursing intervention clasification, (NIC) fourth edition. New York, Mosby.

Moorhead, Johnson, M., Maas, M. L., Swanson, E., 2004. Nursing Outcome Classification (NOC) Fourth Edition. New York, Mosby.

Mulyana, S., 2008. TORCH ( Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes ) . http://ms32.multiply.com/journal/item/22

Nanda, 2007-2008. Nursing Diagnosis: Definition & Classification. Philadelphia: Nanda International

Suromo, L. B., 2007. Kewaspadaan Terhadap Infeksi Cytomegalovirus Serta Kegunaan Deteksi Secara Laboratorik. Semarang: Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro. Diakses tanggal 05 November 2010. http://eprints.undip.ac.id/321/1/MA_Lisyani_Budipardigdo_Suromo.pdf

WHO,2008, Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, WHO, Jakarta.